Thursday, April 16, 2020

Belajar Dari Hokaido Untuk Sukses Mengatasi Corona

Hokkaido di Jepang sempat jadi perhatian sebab sukses menangani kritis virus corona. Berlangsung pengurangan relevan jumlah masalah. Tapi Hokkaido menjadi lagi perhatian sebab tengah berusaha hadapi gelombang infeksi ke-2.

Di akhir Februari, Hokkaido jadi daerah pertama di Jepang yang mengatakan kondisi genting sebab Covid-19.



Sekolah ditutup, pertemuan rasio besar diurungkan serta beberapa orang diminta tinggal di dalam rumah. Pemerintah ditempat mencari serta menutup siapa juga yang sempat berkontak dengan korban dengan cara agresif.

Kebijaksanaan itu sukses serta pada pertengahan Maret jumlah masalah baru menurun jadi satu atau dua /hari. Pada 19 Maret kondisi genting ditarik, serta pada awal April, sekolah dibuka kembali lagi.

Tetapi saat ini, cuma 26 hari sesudah kondisi genting ditarik, ketentuan baru harus diresmikan.

Dalam satu pekan paling akhir, Hokkaido sudah mencatat 135 masalah baru Covid-19 yang di konfirmasi. Tidak sama dengan epidemi pertama pada Februari, tidak ada bukti virus sudah di-import kembali lagi di luar Jepang.

Tidak satu juga dari masalah baru itu ialah orang asing, pun tidak ada dari mereka yang terkena melancong ke luar Jepang pada bulan kemarin.

Pertama, bila Anda mengerjakannya begitu awal, Anda dapat mengaturnya.

"Relatif gampang untuk mengatasi cluster, untuk mencari jejak serta menutup, " kata Profesor Kenji Shibuya dari King's College London, dikutip dari BBC, Kamis ( 16 / 4 ).

"Faksi berkuasa cukup sukses dalam pendekatan kontrol cluster mereka. Jepang ada pada babak paling dahulu dari epidemi waktu itu. Itu dilokalisasi serta itu ialah cerita sukses."

Dalam ini, Hokkaido mempunyai beberapa persamaan dengan yang berlangsung di Kota Daegu, Korea Selatan. Disana, epidemi besar dicari dengan cara agresif. Mereka yang terkena diisolasi serta epidemi sukses didesak.

Tetapi pelajaran ke-2 dari Hokkaido semakin lebih tidak memberikan keyakinan.

Sesudah epidemi Daegu, pemerintah Korea Selatan mengawali program tes besar untuk mencari pandemi. Jepang lakukan yang sebaliknya.

Serta saat ini, lebih dari tiga bulan sesudah Jepang mencatat masalah pertama, tes cuma dilaksanakan untuk sejumlah kecil populasi.

Awalannya, pemerintah menjelaskan tes rasio besar ialah "pemborosan sumber daya ".

Pertama, Kementerian Kesehatan Jepang cemas rumah sakit akan kerepotan oleh orang yang dites positif ‐ tapi cuma mempunyai tanda-tanda kecil. Serta pada rasio yang lebih luas, tes Covid-19 ialah tanggung jawab pusat kesehatan ditempat serta bukan pada tingkat pemerintah nasional.

Beberapa pusat kesehatan lokal tidak diperlengkapi dengan staf atau perlengkapan untuk mengatasi tes dalam rasio besar. Ini bermakna faksi berkuasa di Jepang tidak mempunyai ide yang pasti mengenai bagaimana virus ini bergerak ditengah-tengah populasi, kata Prof Shibuya.

"Kami ada ditengah-tengah babak ledakan epidemi, " tuturnya.

"Pelajaran penting yang bisa diambil dari Hokkaido ialah jika serta bila Anda sukses dalam pemberhentian ( penebaran virus ) pertama-tama, susah untuk menutup serta menjaga pemberhentian untuk periode waktu yang lama. Terkecuali bila Anda memperlebar kemampuan penerapan tes, susah untuk mengenali penyebaran komune serta penyebaran rumah sakit. "

Pelajaran ke-3 ialah jika "kenyataan baru" ini akan berjalan semakin lebih lama dari yang diprediksikan banyak orang.

Hokkaido saat ini harus memaksa kembali lagi limitasi itu, walau versus Jepang dari "lockdown" Covid-19 lebih lunak dibanding yang diresmikan dalam tempat lain.

Banyak orang akan kerja. Sekolah kemungkinan ditutup, tapi beberapa toko serta bar masih membuka.

Prof Shibuya berpikir tanpa ada beberapa langkah yang lebih keras, Jepang mempunyai sedikit keinginan untuk mengatur apa yang disebutkan "gelombang ke-2" infeksi yang saat ini berlangsung, bukan hanya di Hokkaido, tapi di semua negeri.

"Pelajaran penting ialah serta bila Anda sukses dalam meredam ( penyebaran ) dengan cara lokal tapi ada penyebaran yang berlangsung dibagian lain negara itu, sepanjang orang bergerak, susah untuk menjaga status bebas virus ".

Walau begitu, perekonomian di Hokkaido tersuruk. Pulau ini benar-benar bergantung pada pariwisata, serta Jepang sudah larang lawatan dari AS serta Eropa serta sejumlah besar negara di Asia.

Pemilik bar di kota Chitose sangat terpaksa tutup upayanya serta menghentikan stafnya. Lebih jauh ke utara di kota Asahikawa, Naoki Tamura menjelaskan, barnya masih membuka tapi hampir tidak ada konsumen setia.

"Satu atau dua hadir tiap malam, " tuturnya.

"Dahulu terdapat beberapa wisatawan dari China serta Asia Tenggara. Mereka betul-betul hilang. Kami tidak dengar orang ngomong bahasa asing di jalan saat ini. Tempat penginapan yang lebih kecil harus ditutup. Usaha pariwisata betul-betul payah."

Kondisi genting baru dengan cara sah akan usai pada 6 Mei, akhir berlibur "Minggu Emas" Jepang.

Tapi seorang petinggi pemerintah ditempat yang kerja pada pengendalian pandemi di Hokkaido menjelaskan, mereka kemungkinan harus menjaga beberapa langkah itu lebih lama.

"Kami berasa kami harus terus lakukan hal sama, " tuturnya. "Maksudnya untuk meminimalisir contact di antara beberapa orang untuk hentikan penebaran virus.
Share:

0 comments:

Post a Comment